Catatan Ramadhan Hari ke empat ...
" Ya Allah saya niat berpuasa karena saya adalah hambamu ya Allah "
Niat yang paling simple sebelum kita berpuasa tetapi maknanya mendalam.
Karena di dalam kata kata niat ada dua unsur yang selalu harus kita
pegang seumur hidup kita. Dua unsur itu adalah IKHLAS dan PASRAH.
Belajar Ikhlas bukanlah hal yang mudah. Contoh yang paling sederhana saja. Ikhlas tersenyum
disaat berpuasa. Tinggal di kota Jakarta dan masih berusaha untuk
tersenyum menghadapi kemacetan, pekerjaan dan menahan emosi bukanlah hal
yang mudah. Hal yang gampangnya ialah ngomel seharian. Tapi apa
hasilnya? Kamu tidak akan menjadi manusia yang lebih baik sehabis itu.
Kalau saya punya trik kecil menghadapi gejolaknya emosi di tengah bulan
puasa. Trik itu bernama NIKMATIN AJAH. Nikmatin rasa lapar, nikmatin
rasa haus dan nikmatin menunggu bedug Maghrib. Karena kalau kita hanya
menunggu dan menunggu saja belum tentu akan lancar puasa kita. Tapi
kalau kita NIKMATIN AJA alhasil seperti lagi senang senang, karena
pekerjaan kalau kita nikmatin jadinya akan jauh lebih menyenangkan.
Karena bila kita senang, waktu akan lebih cepat berputar.
Lucunya Cynthia kalau nonton iklan sirup selama bulan puasa dia pasti
ingin buru buru berbuka. Kalau saya malah NIKMATIN nonton channel Masak
memasak di TV sambil tersenyum. Makanya Cynthia selalu bertanya kenapa
saya bisa kuat banget puasanya. Ya itu jurusnya. NIKMATIN AJA segala
emosi, lapar, haus dan kantuk karena semua ini ibadah.
Yang
kedua ialah PASRAH. Pasrah itu salah satu jurus paling ampuh didunia
ini. Tetapi dengan catatan ialah " LAKUKAN YANG TERBAIK DAN SEHABIS ITU
BARU BERPASRAH ". Jangan " PASRAHIN SAJA NANTI JUGA DIBERIKAN JALAN OLEH
ALLAH.". Karena saya percaya Allah tidak akan memberikan apapun ke
mereka yang tidak pernah berkerja dan berusaha.
Saya belajar
PASRAH pada saat saya ke Tanah Suci di tahun 2008. Disitu segala jenis
bentuk ibadah saya lakukan dengan "KEPASRAHAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH".
Karena sejujurnya itulah Islam. Sebalik dari tanah suci saya lebih suka
dipanggil dengan nama saya sendiri tanpa embel embel apapun di depannya.
Menjadi Haji bukanlah untuk titel atau pengakuan dari lingkungan
sekitar. Bila saya sudah Haji bukan berarti saya manusia yang lebih
tinggi derajatnya dari mereka yang belum Haji.
Menjadi Haji
bagi saya adalah penemuan jati diri dan menjadi manusia yang lebih
Ikhlas, Pasrah dan Positif. Proses naik haji kemarin seperti rangkuman
hidup. Hidup itu apa? Dan pasti setiap orang mengartikannya beda beda.
Saya menikmati jutaan rasa dihidup ini. Saya berpasrah setelah melakukan
apapun. Dan selalu berpikiran positif walaupun terkadang dicaci maki
atau bahkan dibenci oleh orang.
Jadi janggan panggil saya Haji
Giring. Panggil saja Giring. Karena titel Haji itu aku simpan dalam
dalam dihati sebagai kunci jawaban menghadapi hidup ini.
Selamat berpuasa ...
- Kutipan dari fanpage FB Giring Cynthia Zidane -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar